Allah swt, telah menciptakan segala hal di dunia ini berpasang-pasangan. Panjang-pendek, gemuk-kurus, gembrot-lansing, jauh-dekat, besar-kecil, tingi-rendah. Begitu pula kaya-miskin, pintar-bodoh, banyak ilmu-miskin ilmu, pejabat teras-rakyat biasa. Semuanya serba berpasangan. Sejak awal Allah Maha Gagah menegaskan bahwa perbedaan itu bukan merupakan ‘kelebihan sejati seseorang atas orang lain. Sebab, sesunguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa: taat kepada aturan-Nya baik perintah maupun larangannya. Allah berfirman yang artinya:
Mengapa Wajib Berdakwah?
Islam adalah agama dakwah. Artinya, bahwa Islam bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia, dipeluk, dipahami dan diamalkan oleh manusia dari berbagai suku dan bangsa adalah oleh karena dakwah, yang dilancarkan tanpa henti di sepanjang kurun sejarah Islam. Salah satu dari inti ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Dan menjadi salah satu ciri seorang mukmin adalah kepeduliannya terhadap dakwah. Bersama mukmin yang lain atau mukminat, ia bahu membahu melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Ia yakin tidak ada aktifitas yang lebih mulia dalam hidup ini kecuali mendedikasikan diri dalam dakwah Islam.
Konsekuensi Memeluk Aqidah Islamiyah
Dalam kehidupan ini, manusia yang “normal” tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya. Ambil saja suatu contoh tentang seseorang yang sedang memasak air. Setelah mendidih, ia melihat didihan tersebut. Orang itu pun menyadari dan meyakini betul bahwa air yang mendidih tadi pasti panasnya. Selain itu, ia berpendirian bahwa bila air mendidih itu diminum niscaya akan rusaklah lidah, serta rontoklah giginya. Bila demikian keadaannya, tentu saja ia tidak akan serta merta meminum air yang mendidih tadi sekalipun ia dahaga sekali. Andaikan, orang itu tetap juga meminumnya padahal ia tahu dan sadar betul akan kondisi air itu, konsekuensi dan dampak meminumnya akan dideritanya; akan macam-macamlah pandangan orang terhadapnya. Bahkan, boleh jadi ada orang yang mengatakan bahwa ia gila, sebab meyakini keadaan air mendidih dengan segala akibatnya tetapi masih melanggar apa yang diyakininya itu. Inilah suatu gambaran dalam kehidupan bahwa orang yang “normal” akan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya. Bila tidak, barangkali orang akan menyebutnya sebagai mahluk aneh.
Politik Kemunafikan
Dari Abu Hurairah berkata: Bersabda Rasulullah SAW:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لاَ تَزَالُ الرِّيحُ تُمِيلُهُ وَلاَ يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلاَءُ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ شَجَرَةِ اْلأَرْزِ لاَ تَهْتَزُّ حَتَّى تَسْتَحْصِدَ
“Perumpamaan orang mukmin adalah seperti tanaman yang selalu digoyang oleh angin. Dan orang mukmin senantiasa ditimpa ujian dan cobaan. Sementara, perumpamaan orang munafik adalah seperti pohon Arzi yang tidak digoyang sampai dipanen.” (HR. Muslim)